Home | Looking for something?
  • Cerita
  • Edit
  • Jumat, 23 April 2010

    Ciptono


    Published: 08 Feb 2010 18:42:00 WIB by: kickandy

    Ia adalah sosok guru yang sangat peduli pada perkebanganan anak-anak berkebutuhan khusus.

    SLB Negeri Semarang, tempat dimana dia menjabat sebagai Kepala Sekolah sekarang dirintis sejak tahun 2002. Awalnya, dia membuka SLB di ruangan balai RW dekat rumahnya, kemudian pindah disamping garasi rumahnya selama lebih kurang 3 tahun lamanya.

    Pada Februari 2005, mereka mendapat tawaran untuk mengembangkan SLB dan mereka pindah ke tempat baru dengan total siswa 30 siswa dan 9 guru binaan dari rumahnya. Karena belum ada dana dari pemerintah guru-guru yang mengajar diurus oleh orang tua murid, Ciptono memindahkan barang-barangnya sendiri seperti peralatan masak dan meja. Tahun 2006, dana dari pemerintah datang dan seiring perkembangannya pada tahun 2008, SLB Negeri Semarang sudah memiliki 242 siswa dan 60 guru.

    Gaji yang diterima oleh para guru berasal dari dana BOS, pemerintah dan dari hasil unit usaha mereka seperti penjualan pulsa, VCD pertunjukan ABK yang berbakat, menjual rumput dari lapangan belakang sekolah yang mereka budidayakan serta menjual makanan seperti kerupuk.

    Menurut Ciptono SLB Negeri Semarang membina anak-anak tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa dan autis. Selain itu, mereka juga mempunyai beberapa bengkel pelatihan seperti tata boga, pertukangan, otomotif, busana, electricity dan pertamanan. Jadi bagi anak-anak yang tidak mempunyai kemampuan akademis, mereka diarahkan dan dididik ketrampilan. Di sekolah tersebut, Ciptono berkomitmen dengan mempekerjakan 20% karyawan yang merupakan penyandang cacat dan lulusan SLB. Hal ini dilakukannya untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka juga bisa bekerja. Selain itu, juga untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak lainnya. Ciptono menambahkan, diantara penyandang cacat tersebut ada yang menjadi asisten di bidang otomotif dengan gaji Rp. 200.000-250.000. Terkadang ada juga yang gajinya berasal dari orang tua mereka namun dititipkan kepada pihak sekolah.

    Ciptono lulus dari IKIP Yogyakarta tahun 1987, Ciptono mengajar di SLB Wantu Wirawan Salatiga dengan gaji Rp. 5000/bulan ditambah Rp. 700 untu transport. Uang yang diterimanya habis dalam waktu 5 hari. Untunglah, untuk ongkos transportasi sehari-hari, Ciptono dibantu oleh ayahnya, Jayin Hartowiyono yang merupakan pemilik armada bus Gotong Royong dan Hidayah di Salatiga. Ciptono sendiri dibesarkan oleh neneknya dengan pendidikan "keras". Menurut pengakuannya, neneknya mendidiknya untuk mencintai sesama, khusunya mereka yang tidak mampu dan berkekurangan.

    Ibunya sendiri sudah meninggal dunia sejak ia berusia 3 tahun. Salah satu nilai yang diajarkan neneknya adalah "bantulah orang lain disaat kamu bisa membantu". Pesan ini begitu terpatri dalam benak Ciptono sehingga dia begitu menunjukkan totalitasnya untuk pendidikan bagi ABK (Anak berkebutuhan khusus). Ciptono juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa ABK mempunyai kemampuan luar biasa Ditambahkannya, jiwa sosialnya untuk menolong ABK muncul sejak lulus SMA tahun 1982. Awalnya, Ciptono sempat mendaftar di Kedokteran UGM namun tidak diterima. Kemudian, dia memutuskan untuk mendaftar di IKIP Yogyakarta jurusan Pendidikan Luar Biasa.

    Ciptono juga merupakan perintis untuk 3 sekolah. Salah satunya yaitu SLB Bina Harapan membantu anak-anak yang berkesulitan dalam belajar. Di sekolah ini, dibuka kelas khusus yang merupakan tempat bagi anak-anak yang seharusnya bersekolah di SLB namun orang tuanya masih belum bisa menerima keadaan anaknya. Oleh karena itu, di sekolah ini, para orang tua diberi pengertian lebih dahulu agar dapat bisa menerima anaknya bersekolah di SLB. Ciptono pun selalu mengatakan kepada guru-guru yang lain bahwa " dibalik kekurangan ada kelebihannya".

    0 komentar:

    Poskan Komentar

     

    TV Channel

    google translate

    chat disini aja yuk ^^