Home | Looking for something?
  • Cerita
  • Edit
  • Kamis, 22 April 2010


    Published: 09 Feb 2010 07:27:00 WIB by: kickandy

    Sejak kuliah kedokteran, Basuki sudah melakukan kegiatan sosial. Setelah lulus jadi dokter umum ditahun 1989, ia terjun ke daerah bencana. Kegiatan sosialnya lebih dilakukan secara individual, bukan organisasi. Baru gabung dalam Bulan Sabit Merah Indonesia di tahun 2002.

    Ketika perang Irak meletus di tahun 2003, dr Basuki Supartono, SpOT, FICS, MARS beserta empat orang yang tergabung dalam tim Umum Sabit Merah Indonesia (BSMI) terjun ke Irak. "Kami masuk Irak melalui Suriah dan Damaskus. Tidak mudah, karena wilayah Irak sudah dikuasai Amerika. Terjadi kendala ketika tim melewati perbatasan antara Suriah dengan Irak, tim kita nggak bisa lewat perbatasan. Setelah negosiasi selama beberapa jam kami diijinkan melewati perbatasan," ungkap Basuki.

    Tahun 2006,  Basuki   menjadi  relawan  di Libanon, Tahun 2009 di  Gaza-Palestina.  Ia berangkat bersama dengan tim BSMI dan departemen Kesehatan membawa bantuan ke Gaza-Palestina melalui Mesir..

    Eko Cahyono


    Published: 08 Feb 2010 18:35:00 WIB by: kickandy

    Berawal dari hobi membaca tabloid-tabloid dan merasa sayang untuk meloakkan sekitar 400-an koleksinya, Eko mulai meminjamkannya kepada masyarakat. Eko mempunyai tekad untuk memajukan pendidikan bagi anak –anak dan remaja putus sekolah.

    Untuk mendapatkan tambahan koleksi, ia mencari sumbangan buku-buku dari rumah ke rumah. Sampai saat ini sudah sekitar 1.246 pintu rumah ia ketuk. Karena koleksi bukunya terus bertambah, Eko akhirnya mendapat teguran dan tentangan dari keluarganya sehingga ia akhirnya rela diusir dari rumah.

    Eko akhirnya mulai mengontrak tempat untuk menampung buku-buku yang makin lama makin banyak. Perpustakaan yang didirikannya sejak tahun 1998 ini sampai sekarang sudah pindah kontrakan sebanyak 9 kali dalam kurun waktu 11 tahun. Tempat yang sekarang ditempatinya berupa bubuk bambu berukuran 6 kali 9 meter yang terletak di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di tempat inilah sekarang Eko tinggal dan mengelola perpustakaan kampungnya.

    Menurut Eko anggota perpustakaannya sudah mencapai 8000 orang dan koleksinya terdiri dari buku, majalah, tabloid, kamus, ensiklopedia, buku pengetahuan umum, sastra, pelajaran sekolah hingga komik anak-anak. Total seluruhnya sudah mencapai sekitar 15.000. Salah seorang guru mengusulkan agar perpustakaannya diberi nama Perpustakaan Anak Bangsa (PAB). Perpustakaan ini buka 24 jam sehari, senin – minggu dan tidak pernah tutup. PAB melayani hampir semua desa di seluruh Kabupaten Malang karena kebanyakan sekolah kabupaten tidak memiliki perpustakaan sehingga mereka meminjam buku-buku referensi dari PAB.

    Untuk membiayai operasional perpustakaan dia bekerja apa saja termasuk menjadi penjaga stand. Eko memang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia khawatir jika ia bekerja full time maka tidak ada yang mengontrol perpustakaannya. Untuk mempertahanakan PAB, sejak 2 tahun lalu Eko sudah bersiap-siap menjual salah satu ginjalnya. Syaratnya, orang yang mau membeli ginjalnya harus mau membangunkan gedung permanen untuk PAB. Pernah ada orang dari Jawa Tengah yang berminat untuk membeli ginjalnya sebesar Rp. 200 juta namun tidak jadi karena orang tersebut akhirnya keburu meninggal.

    Eko sudah banyak berkorban untuk perpustakaannya. Ia sudah menjual playstation, radio, HP dan sepeda motor kesayangannya untuk sewa gubug, bayar listrik dan biaya operasional PAB. Ditambahkannya, PAB pernah tertimpa pohon tumbang dan kebanjiran. Namun, tidak sekalipun ada bantuan dari pemerintah kabupaten yang paling hanya datang melakukan kunjungan sesekali.

    Motivasi Eko mempertahankan PAB adalah agar anak-anak di kampung yang memiliki banyak waktu luang bisa pintar tanpa harus sekolah. Ia juga ingin membudayakan membaca kepada mereka. Sekarang ini, Eko sedang menghadapi permasalahan yang cukup sulit karena dalam waktu sebulan PAB sudah harus pindah lagi namun ia tidak mempunyai biaya. Menurutnya orang-orang yang datang tidak pernah mau tahu dari mana buku-buku tersebut berasal.

    Rabu, 21 April 2010

    H. Jufri Umar


    Published: 08 Feb 2010 18:42:00 WIB by: kickandy

    Bagi warga Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, nama H. Jufri Umar (48) tidak asing lagi. Bapak lima orang anak yang tinggal di Desa Mojomulyo, Puger tersebut adalah seorang pendidik. Sehari-hari ia mengelola Yayasan Pendidikan Islam Bustanul Ulum yang membawahi SD, SMP dan Diniyah (sekolah agama) pada malam hari. "Kalau ditotal seluruh siswanya sekitar 450 lebih," paparnya. Berbeda dengan sekolah lain, semua siswa di sana tidak dipungut biaya sepeser pun. Yang bersekolah di sana pun sebagian besar adalah anak-anak TKI dari desa setempat atau sekitarnya yang didera kemiskinan karena tidak ada orangtua.

    Kegigihan Jufri dalam mengembangkan pendidikan tak lepas dari pengalaman suram masa kecilnya. Kala itu, warga desa tidak ada yang mau sekolah. Faktor kemiskinan membuat mereka lebih mementingkan mencari nafkah sebagai buruh tani atau mencari ikan di laut. "Yang jadi korban salah satunya adalah saya. Waktu kelas 5 SD ketika semangat-semangatnya sekolah, sekolah terpaksa dibubarkan sebab siswanya protol, cuma tinggal saya seorang. Saya menjadi tenaga serabutan di sawah, dan setelah beranjak remaja ia harus mencari ikan di laut, serta sebagai penarik becak,"kenang Jufri.

    Padahal keinginan Jufri kecil untuk sekolah sangat besar. Ia sadar, sebagai seorang anak tak mampu hanya sekolahlah satu-satunya cara mengangkat derajat hidup. Adalah minat bacanya sangat luar biasa, membuat lentera semangat Jufri menimba ilmu tak pernah padam. Sobekan kertas sekecil apapun, dia pungut dan dibaca. Dari semangat itulah sebuah mimpi membangun wadah pendidikan gratis bagi anak-anak di desanya tercetus. Dan, cita-cita Jufri terkabul. Suatu ketika di tahun 1986, salah satu petak lahan di desanya ada masalah dengan orang luar. Dengan kemampuan diplomasinya, lahan milik warga tersebut berhasil dibebaskan. Lahan tersebutlah yang kemudian dibuat sarana pendidikan.

    Jufri lalu berusaha mencari donatur. Kini Jufri sudah memiliki 17 tenaga pengajar. Di sekolah tersebut juga terdapat asrama untuk menampung 30 siswi, serta sebuah masjid. "Sekarang juga ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Jadi kami lebih terbantu." Yang juga membanggakan, selama diterapkan sistem Ujian Nasional, siswanya selalu lulus 100 persen. Padahal, sambungnya, siswa sekolah negeri di sekitarnya banyak sekali yang tidak lulus. Keberhasilan Jufri ini membuatnya diundang Dirjen Pendidikan Dasar ke Jakarta. "Yang lucu, pada saat datang saya sempat ditolak oleh petugas, sebab saya cuma memakai sandal jepit. Maklumlah, saya memang tidak pernah punya sepatu,"ujar Jufri sambil tertawa.

    Eko Ramaditya Adikara


    Published: 25 Feb 2010 10:27:00 WIB by: kickandy

    Eko Ramaditya Adikara adalah seorang arranger untuk musik-musik game,  tidak ada yang menyangka kalau seorang tunanetra seperti Ramaditya ternyata dapat menjadi arranger bahkan juga membuat sebuah web blog. Dengan mottonya yaritu "If you want to be loved, make yourself loveable", Rama tampak begitu ringan menjalani hidupnya.

    Sudah sejak kecil Rama dimasukkan ke sekolah luar biasa oleh kedua orangtuanya. Mulai dari TK luar biasa di daerah Semarang. Tetapi kemudian setelah pindah ke Jakarta, ia masuk ke sebuah TK umum (TK Mekar Indah) yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Di TK inilah, saya belajar sedikit mengenai tulisan latin, huruf dan angka. Hasilnya, sekarang ia dapat membaca/menulis huruf latin meskipun hanya untuk huruf capital saja.

    Pada tahun 1987, awalnya dibawa ke sebuah SLB di kawasan Lebak Bulus - Jakarta Selatan.

    Mulanya Rama dititipkan di asrama penyandang cacat Tunanetra – Tan Miyat, namun karena usia yang masih terlalu kecil untuk dapat hidup mandiri, maka orangtuanya kemudian memutuskan untuk menunda niat itu. Akhirnya, ia pun resmi masuk sebagai murid SLB/A Pembina Tingkat Nasional. Bahkan Rama sempat tinggal di rumah salah seorang gurunya, Ibu Lilis, untuk belajar baca tulis braille. Karena orangtuanya masih belum tega, terkadang ia dijemput dan dibawa pulang setiap satu hari, padahal orangtuanya sepakat untuk menjemput Rama tiap seminggu sekali.

    Tamat SD, Rama melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 226 – Jakarta. Rama akhirnya bisa dapat bersekolah di SMP 226 dengan perjuangan panjang. Orangtua dan guru-gurunya di SLB/A berjuang untuk mewujudkan keinginan itu dengan meminta SK pada Depdikbud yang menyatakan bahwa penyandang cacat Tunanetra mampu bersekolah di sekolah normal. Ayahnya sampai harus bertengkar dengan kepala sekolah SMU 70 (Rayon sekolah yang dituju) untuk mempertahankan bahwa Rama mampu bersekolah di sekolah umum. "Bisa!", itulah jawaban yang diberikan ayahnya ketika Kepala Sekolah meragukan kemampuannya. Akhirnya, iapun diterima di SMPN 226 yang letaknya sekitar 1 kilo dari sekolah awal.

    Dengan bantuan Sandra, salah seorang temannya, Rama semakin memiliki banyak teman dan membantunya mengenali sekolah barunya. Bahkan Rama berhasil meraih peringkat 7 dari sekitar 500 siswa dalam ujian Penataran P4.

    Pendidikan dijalani seperti biasa, hanya saja ada beberapa pengecualian, pada beberapa pelajaran memerlukan perhatian khusus, seperti IPA dan Fisika, ia tidak dapat mengikutinya dengan baik karena tidak dapat melihat, jadi guru mata pelajaran yang bersangkutan bekerja sama dengan pihak SLB/A untuk memberi model pendidikan terpadu.

    SMA pun dijalaninya di sekolah umum, yaitu Madrasah Aliyah Negeri 11 jakarta. Dengan tujuan untuk mendapat ilmu agama lebih banyak. Selain itu banyak senior tunanetra yang sudah bersekolah disana sehingga guru-gurunya menjadi lebih familiar. Sedangkan kuliahnya dilalui di Universitas Darma Persada, Jakarta.

    Awalnya Rama mencoba mengikuti UMPTN, namun gagal karena salah langkah dalam menentukan jurusan (Memilih Hubungan Internasional). Setelah itu, ia mencoba mendaftar ke Universitas Darma Persada dan memilih jurusan Sastra Inggris S1. Pihak universitas bahkan sempat mengembalikan uang pendaftaran dengan alasan: Universitas tidak memiliki/menyediakan sarana penunjang bagi Tunanetra. Mendengar hal itu, kedua orangtuanya bersikeras untuk terus maju. Akhirnya, bersama kedua orangtuanya Rama  menemui Kepala jurusan Inggris hingga akhirnya saya diijinkan mengikuti tes masuk dan berhasil diterima sebagai mahasiswa baru.

    Mengenai ketertarikannya dengan komputer, Rama sudah sejak kecil mengenal komputer. Hanya saja pada saat itu pengertiannya akan komputer masih bias antara mesin game, mesin hitung, dan mesin untuk menulis surat. Rama menjadi sangat tertarik dengan komputer karena imajinasinya yang saat itu senang menonton film kartun futuristik yang mengetengahkan komputer di dalam ceritanya, atau karena tetangga yang saat itu memiliki Atari Street, sebuah komputer yang juga berfungsi sebagai mesin game yang dirilis oleh Atari (1986). Jika ditanyakan cita-citanya saat itu maka jawabannnya adalah "ingin menjadi ahli komputer".

    Rama semakin mencintai komputer saat mulai bersekolah di SLB (SD), dan setiap minggu sehabis pulang dari asrama, ia diajak ke kantor ayahnya. Saat itulah Rama mulai mengenal game-game komputer berbasis DOS (Disk Operating System). Rama juga mulai mengenal nama-nama aplikasi pengolah kata dan data seperti Lotus 123, WordStar, Dbase, dan beberapa bahasa pemrograman, meskipun pada saat itu ia hanya mengenal nama tanpa tahu banyak mengenai fungsinya (lebih tertarik pada game).

    Baru pada 1994, saat bergabung dengan Yayasan Mitra Netra, Rama mengenal adanya komputer bicara, yaitu seperangkat komputer biasa yang diperlengkapi dengan peralatan khusus yang membuatnya dapat mengeluarkan suara. Cara kerjanya; perangkat keras dan perangkat lunak khusus yang terpasang di komputer tersebut mengkonversi/menterjemahkan teks atau obyek yang muncul di layar monitor dalam bentuk suara. Di Mitra Netra itulah Rama banyak mempelajari DOS dan beberapa aplikasi dasar pengolah kata dan data seperti WordStar, WordPerfect, Lotus 123, Dbase, dan sejumlah aplikasi lain. Aplikasi pengolahan kata ini banyak digunakan Rama karena ia memang menyukai dunia tulis menulis.

    Bahkan pernah pada tahun 1996, Silvia, salah seorang mahasiswi yang sedang mengadakan penelitian di asrama tempat Rama tinggal merasa kagum saat melihatnya membukukan buku harian dalam format dokumen WordStar. Setelah lulus dan bekerja sebagai sekretaris, secara pribadi Silvia mengajari Rama berbagai teknik penguasaan keyboard, termasuk shortcut dan teknik mengetik 10 jari. Dalam jangka waktu kurang dari 2 bulan, Rama telah berhasil menguasai teknik mengetik 10 jari dengan lancar. Hingga saat ini, ilmu yang diwariskan Silvia telah berhasil membuatnya mampu mengetik sebanyak 60 kata (Indonesia/Inggris) dalam waktu 1 menit.

    Tahun 1998, Rama mulai belajar pengoperasian Windows. Saat itu, ia baru mengetahui bahwa komputer bicara pun dapat diwujudkan dengan teknologi sekarang, dan tak perlu membeli perangkat khusus. Cukup memasang soundcard dan speaker pada komputer, lalu memasang software pembaca layar (screen reader). Produk pembaca layar yang sangat populer dan juga digunakannya hingga saat ini adalah JAWS (Job Access With Speech).

    Rama juga menguasai perangkat keras (hardware), baik komputer maupun notebook. Melalui buku-buku dan majalah komputer, ia banyak mempelajari berbagai pengetahuan seputar komputer. Bahkan Rama juga mulai mencoba merakit komputer sendiri, tak jarang dimintai tolong oleh kenalan yang ingin memperoleh komputer harga miring dengan konfigurasi lumayan. Mengoperasikan dan belajar perangkat lunak pada Windows merupakan kegemarannya. Hambatannya sebagai tunanetra adalah soal kompatibilitas pembaca layar terhadap perangkat lunak. Tak semua perangkat lunak dapat dibaca atau dikenali oleh pembaca layar. Biasanya ia menghafal shortcut atau mencari skrip pembaca layar -- lewat internet -- yang sengaja dibuat orang yang ingin membantu tunanetra menggunakan aplikasi tertentu. Skrip tersebut nantinya di-import sehingga pembaca layar dapat mengenali aplikasi yang sedang dijalankan.

    Saat belajar tentang hardware komputer pun, Rama masih harus mengandalkan perabaannya. Kemudian membedakan kabel-kabel yang berlainan warna, yaitu mengakalinya dengan memberi tanda berupa stiker atau tanda pengenal yang dapat diraba dan dijadikan sebagai penanda. Tentu saja, kejadian-kejadian seperti tersengat alus listrik, meledakkan prosesor, atau salah memasukkan hardware pernah dialaminya.

    Sedangkan selama ini cara Rama membaca adalah dengan merekam buku-buku pelajaran sekolah ke bentuk kaset sehingga ia dapat memperoleh informasi yang ada dalam media cetak dengan cara mendengarkan kaset tersebut.

    Kini, Rama sudah dapat membaca media cetak sendiri, caranya adalah dengan menggunakan scanner dan memanfaatkan teknologi OCR (Optical Character Recognition), yaitu teknik memindai tulisan di buku menjadi teks dengan cara melakukan scan pada media cetak, dan hasilnya dapat disimpan dalam format teks atau MS-Word, yang dapat dibaca oleh screen reader.

    Kisah hidup Rama kian menarik ketika kesukaannya pada games, membawanya terlibat dalam penataan musik Nintendo untuk video games Super Smash Brothers Brawl yang dirilis 10 Februari 2008. Sejak itu dia rajin menggubah musik. Karya komposisi musik yang sudah dibuatnya lebih dari seratus buah. Tiga di antaranya dipakai untuk tema lagu permainan Final Fantasy VII, sebuah permainan buatan Jepang yang sangat terkenal di kalangan pencinta games komputer, termasuk Indonesia.

    Pada 2003, Rama menciptakan dan mendirikan www.ramaditya.com, blog yang dia ciptakan dan desain sendiri. Blog ini dilengkapi musik latar yang juga digubahnya sendiri. Bagaimana dia bisa bekerja di atas laptop yang selalu dibawa ke mana pun dia pergi."Saya meninggalkan huruf Braille sejak sepuluh tahun lalu saat teknologi pembaca layar (screen reader) hadir. Bagi saya itu sebuah revolusi. Sampai sekarang praktis saya tidak menggunakan Braille lagi. Saya bisa membaca buku atau menulis di komputer seperti mereka yang berpenglihatan normal," kata Rama, yang baru tahu kalau dirinya tunanetra pada umur tujuh tahun.

    Tahun lalu Rama membuat sebuah buku otobiografi yang berjudul 'BLIND POWER': Berdamai dengan Kegelapan. Buku ini berisi kisah hidup, aktivitas, talenta, dan keteguhan hati Rama, yang diharapkan dapat memberi inspirasi bagi pembacanya. Melalui buku ini, orangtua yang mempunyai anak diffable bisa memberikan contoh yang baik bagaimana mereka seharusnya mendidik dan membesarkan anak dengan kemampuan khusus ini. Bagi orang kebanyakan seperti kita, buku ini dapat menjadi penggugah motivasi, pemberi semangat juang, dan penyentuh rasa syukur. Rama yang tuna netra saja mampu melakukannya, masa kita tidak.

    Rama memiliki banyak talenta yang sulit di bayangkan jika tidak melihatnya secara langsung. Rama dapat bepergian kemana-mana sendirian dengan angkutan umum. Karena dia telah belajar orientasi lapangan. Bahkan dia dapat mengetahui arah mata angin dari hembusan angin.  Rama pernah mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan saat berdesakan di bus kota, secara tidak sengaja dia menyentuh gunung kembar seorang ibu. Tak ayal, si ibu menonjok Rama. Setelah tahu Rama seorang tuna netra akhirnya si ibu malah minta maaf.

    Rama sendiri adalah pecandu berat musik game sehingga bagi orang lain terlihat seperti "freak". Yang lucunya dia dapat menikmati acara menonton di bioskop. Bahkan dia sempat menonton Kungfu Panda 3 kali.

    Rama saat ini sering diminta menjadi motivator. Sudah banyak perusahaan dan sekolah yang memintanya. Di antaranya Prudential, Yayasan Al Azhar, dan Direct English.  

    Rama juga belajar beladiri di Merpati Putih. Di sini kemampuan batinnnya semakin terasah.   

    Rama juga suka ngeblog. Dia punya blog di Multiply dan blog berbayar. Rama bisa melayani setiap komentar dengan baik. Bahkan dia dapat mengoreksi ejaan yang salah di blog orang lain.

    Rama sempat diutus mewakili Indonesia dalam pertemuan tuna netra Asia di Thailand. Pada satu sesi Rama bertanya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih. Pendengaran Rama memang luar biasa, sehingga dia mampu menirukan pelafalan bahasa Inggris laksana native speaker.

    Johny Ivan


    Published: 08 Feb 2010 18:34:00 WIB by: kickandy

    Johny (46 tahun) adalah seorang PNS yang bekerja di Dinas Energi & Sumber Daya Mineral. Ia selalu bermimpi untuk membuat PLTMH/turbin tetapi tidak bisa karena mengalami keterbatasan. Baru pada awal tahun 2005 di Solok Selatan, ketika ada dana sedikit Johny langsung mencobanya. Pada saat itu dana yang ada Rp. 75 juta dan dia membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk menyelesaikan turbin tersebut. Keberhasilan tersebut berlanjut dengan dibuatnya 40 Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dari skala kecil s/d besar. Dibantu 20 pekerja dibengkelnya, Johny turut berperan dalam menerangi sekitar 4000 rumah di Sumatera Barat.

    Kemampuan membuat pembangkit listrik bertenaga aliran air lebih berasal dari ilmu yang dia peroleh di lapangan dan buku-buku yang dipelajarinya secara otodidak saat dia menjadi PNS Dinas pertambangan dan Energi Provinsi Sumbar. Pendidikan formal sebagai insinyur teknik elektro relatif tidak memberi teori PLTMH yang memadai baginya. Johny sendiri mendesign dan melakukan perencanaan untuk setiap unit PLTMH yang akan dibangunmya. Design turbin buatannya biasanya di cat berwarna-warni.

    Menurut Johny penggunaan PLTMH baru sampai tahap perorangan. Untuk itu, sekarang ini Johny ingin memotivasi masyarakat untuk menggunakan PLTMH untuk kegiatan produktif diantaranya menggiatkan kembali sentra industri bordir di daerahnya. Selain itu juga untuk penggilingan padi yang digerakkan listrik dan penerangan ayam yang membutuhkan penerangan khusus. Dilihat dari segi teknis, pembangkit umumnya mempunyai karakter yang sama. Sumber energi dari aliran air setinggi 2 meter saja bisa menghasilkan listrik 400 – 900 watt/rumah untuk 100 keluarga.

    Ditambahkan sejauh ini belum ada pengaduan kerusakan pembangkit yang dibuatnya Johny berharap pembangkit buatannya bisa bertahan puluhan tahun tanpa perbaikan asal air terus mengalir dan memutar turbin pembangkit. Bahkan kini sebagian warga yang terkibat pembangunan PLTMH ikut menimba ilmu lanjutan. Terkait dengan penyebarluasaan ilmu, Johny juga mendirikan LSM Prowater, akronim dari Program Wahana Terpadu, LSM yang menjadi wadah bertukar ilmu antar anggota yang terdiri atas dosen, orang tua hingga kaum muda.

    Selasa, 20 April 2010

    Herman Wenas


    Published: 08 Feb 2010 18:31:00 WIB by: kickandy

    Herman Wenas mencanangkan program keliling dunia dengan berjalan kaki. Program itu bermula dari keinginannya untuk meneruskan teladan orang tuanya dalam upaya menyediakan pendidikan bagi generasi muda kepada anak cucunya kelak.

    Secara resmi ia mulai melakukan perjalanan pada tahun 2007, dimana ia menempuh perjalanan kaki sejauh 1.000 km di Indonesia melintasi kota-kota Jakarta, Serang, Banten, Bogor, Yogyakarta, dan Semarang yang sekaligus menandai dimulainya proyek Friendship Walk Around the World for Future Generation.

    Herman Wenas melakukan sebuah cara yang unik untuk menggugah dunia dalam upaya membantu anak-anak Indonesia yang kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk melaksanakan niatnya, di bawah naungan Yayasan MB-Gen (Melangkah Bagi Generasi), Wenas merancang proyek yang rencananya akan bergerak tahun 2009. Namun akhirnya proyek keliling dunia sejauh 40.000 km itu diputuskan untuk dilaksanakan tahun 2007 sampai 2009, dengan menjelajahi negara-negara seperti Jepang, Kanada, Eropa, Afrika, Mesir, Tanzania dan diakhiri di Australia dan New Zealand.

    Sejak tanggal 20 Oktober 2008, pria Indonesia itu sudah menyusuri Pantai Barat AS dengan lintasan sepanjang 2300 km. Wilayah yang dilewatinya merupakan wilayah kerja KJRI San Francisco mulai dari Portland (negara bagian Oregon), Seattle (negara bagian Washington), Sacramento (ibukota negara bagian California), Richmond, Sausalito, San Rafael, San Francisco, Hayward, Modesto, San Jose, Fresno dan South San Francisco di California.

    Etape akhir perjalanannya tanggal 3-8 November 2008 untuk menempuh rute San Francisco-Hayward-San Jose-Fresno-South San Francisco sepanjang 700 km. Etape akhir tersebut bertujuan untuk mengumpulkan dana pendidikan bagi generasi muda kurang mampu di Indonesia.

    Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari perjalanan kakinya keliling dunia sejauh 40.000km untuk mengumpulkan dana pembangunan "Life Skills Education Center" di Cipondoh, Tangerang. Itu merupakan tempat pelatihan gratis bagi generasi muda Indonesia di bidang pembentukan karakter, kewirausahaan, kesehatan, kesehatan dan nutrisi serta pelestarian lingkungan hidup.

    Usai perjalanannya di pantai Barat AS, Herman Wenas merencanakan melanjutkan perjalanan "Friendship Walk" keliling dunia jalan kaki pada tahun 2009 melalui Mesir (Januari-Februari), Selandia Baru (Februari-Maret), Jepang (Maret-April), Brasil (Mei-Juni) dan Australia (September-Nopember).

    Martinus Miroto


    Published: 08 Feb 2010 18:48:00 WIB by: kickandy

    Martinus Miroto telah menciptakan lebih dari 40 karya kontemporer dan pentas di berbagai negara di Eropa, Asia, USA, Australia, Afrika. Dia adalah seorang penari, aktor, koreografer dan instruktur tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dia adalah pendiri: Miroto Dance Company pada tahun 1986, The MirotoDance Foundation pada tahun 1998, Studio Tari Banjarmili pada tahun 2001, Bedog Arts Festival pada tahun 2007.

    Mulai mempelajari tarian tradisional saat berusia 5 tahun di desanya, Turusan. Dia mendapat pendidikan formal tari di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) 1976-1980, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 1980-1981, Institut Seni Indonesia (ISI) 1981-1986, Folkwang School - Germany (1987).  Dia mendapatkan gelar Master of Fine Arts di bidang seni tari dari University of California Los Angeles (UCLA) 1995.

    Sebagai pengawas koreografer internasional untuk program American Dance Festival 2005. Sebagai koreografer dan juga tampil dalam "Opera Java" (2006), film yang di sutradarai oleh Garin Nugroho dan bertugas di New Crowned Hope, Festival Venice dalam rangka memperingati  250th perayaan Mozart, yang di produseri oleh Peter Sellars. Pada tahun 2008, menghasilkan dua karya "Promise Land" tampil di MAU FORUM New Zealand dan "Living Water" tampil di Festival Air Internasional di Bandung, Indonesia. Berkolaborasi dengan Garin Nugroho dalam "Iron Bed" pertunjukan tari yang ditampilkan di Teater Spectacle, Zurich (18-21Agustus 2008).

    Martinus berkesempatan menampilkan Tari Tunggal dengan lima topeng sekaligus. Tidak hanya muka yang dipasangi topeng, tetapi kedua tangan dan kedua kaki juga. Sehingga, ketika memainkan kelima topeng, Martinus mengambil posisi bertumpu dengan pantat, dan terkadang, pinggang.

    "Martinus Miroto adalah koreografer pertama Indonesia yang telah menciptakan dan mementaskan Tari Tunggal dengan 5 topeng di berbagai festival internasional di 5 benua," kata pendiri MURI, Jaya Suprana.

     

    TV Channel

    google translate

    chat disini aja yuk ^^